MENU Minggu, 23 Agu 2026
x

Pansus BLBI DPD RI Tegaskan Penjualan BCA Rugikan Negara

waktu baca 4 menit
Minggu, 25 Sep 2022 08:22 479 Redaksi

JAKARTA, L86News.com – Penjualan 51 persen saham pemerintah di Bank Central Asia (BCA) melalui program divestasi kepada konsorsium Farallon Capital pada 2002 lalu sangat tidak tepat dan terlalu murah.

Penjualan saham murah ini diduga kuat atas intervensi Badan Moneter Internasional (IMF) yang pada akhirnya justru merugikan negara triliunan rupiah.

Hal ini disampaikan Ketua Pansus BLBI DPD RI, Bustami Zainudin disela-sela Rapat dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2003-2008, Burhanudin Abudllah Harahap di Gedung Nusantara III Jakarta, Kamis (22/9).

Burhanudin Abdullah hadir memenuhi undangan Pansus BLBI DPD RI untuk didengar pendapatnya terkait divestasi BCA beberapa waktu lalu.

Hadir dalam rapat ini yakni, H. Sukiryanto (Wakil Ketua Pansus BLBI); H. Pangeran Syarif Abdurrahman Bahasyim (Wakil Ketua Pansus BLBI), Ajbar (Wakil Ketua Pansus BLBI); KH. Ir. Abdul Hakim, M.M (Anggota Pansus BLBI); dan Hardjuno Wiwoho (Staf Ahli Pansus BLBI).

Dalam Rapat kali ini, Pansus BLBI menyampaikan beberapa pertanyaan kunci terkait pengucuran BLBI, penjualan BCA pada 2003 dan kemungkinan moratorium obligasi rekap ex BLBI yang merugikan negara hingga ribuan triliun rupiah.

Bustami dalam pernyataanya memaparkan konteks pembelian 51% saham BCA pada tanggal 31 Desember 2002 , dimana value asset BCA berdasarkan laporan keuangan auditor independen tercatat Rp 117 Triliunan.

Namun saat transaksi penjualan Saham BCA yang patut diduga terjadi suatu rekayasa intelektual dalam buku BCA ada Obligasi Rekap Pemerintah yang senilai Rp 60 Triliunan yang ditempatkan oleh Menkeu RI tersebut.

Padahal, saham pemerintah yang dimiliki 93% berasal dari pemilik saham BCA lama yakni Anthony Salim.

Hal tersebut sebagai sisa pelunasan utang Fas BLBInya yang Rp 33 Triliun hanya mampu membayar Rp 8 Triliun saja.

Dengan demikian harga saham BCA 93% = Rp 25 Triliunan, sehingga sesungguhnya value BCA tahun 2003 saat dijual dalam posisi profit atau keuntungan Rp 4 Triliunan.

Rinciannya, riil net value BCA = Rp 60 Triliun + Rp 25 Triliun + Rp 4 Triliun = Rp 89 Triliunan.

Namun anehnya, transaksi penjualan 51% saham BCA kepada Farallon (owner PT. Djarum Budi Hartono) hanya dengan harga Rp 5 Triliun saja.

Menurut Bustami, transaksi ini sangat janggal. Sebab, BCA menerima Bunga Obligasi Rekap Pemerintah Rp 7 Triliunan sejak tahun 2003 sampai tahun 2009.

Hal ini diakui oleh Direktur BCA Subur Tan. “Atas pengakuan tersebut ditemukan fakta suatu kejanggalan kasus kerugian keuangan negara senilai Rp 49 Triliun (subsidi Bunga OR ex BLBI + Rp 89 Triliun (nilai BCA tahun 2003 di luar profit BCA yang diterima oleh Budi Hartono sebagai pemegang saham pengendali BCA sejak tahun 2003) = Rp 138 Triliunan. Bagaimana menurut saudara?” tanya Bustami.

Menjawab pertanyaan tersebut, Burhanudin Abudllah Harahap mengatakan pada dasarnya, perusahaan-perusahaan yang diserahkan kepada BPPN oleh bank direncanakan akan diserahkan atau dijual kepada pemilik lama.

IMF menyarankan agar bank-bank itu untuk dijual ke pemilik lama meski akhirnya akan mengalami kerugian 30%.
Sebab, jika dijual ke pemilik baru harganya akan lebih murah.

“Namun ironisnya, faktanya dibeli oleh pemilik lama yang menggunakan baju baru,” kata Burhanudin.

Sementara itu, Wakil Ketua Pansus BLBI DPD RI, Sukiryanto mempertanyakan pembayaran bunga Obligasi Rekap jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sebab faktanya sampai tahun 2014, dana APBN yang dialokasikan untuk membayar bunga Obligasi Rekap pemerintah Ex BLBI sebesar kurang lebih Rp 930 Triliun.

Dan hingga tahun ini (2022) Menkeu RI masih menganggarkan dana APBN Rp 48 Triliunan untuk bunga Obligasi Rekap kepada bank-bank rekap atau para pemegang Obligasi Rekap yang membelinya di pasar sekunder.

Mirisnya, pembayaran bunga obligasi rekap ini terus digelontorkan saat APBN mengalami defisit. Di sisi lain subsidi untuk BBM, pangan, kesehatan, pendidikan yang dihapuskan atau dibatasi oleh pemangku kebijakan.

“Apakah mungkin kita melakukan moratorium pembayaran bunga rekap BLBI ini?,” tanyanya.

Burhanudin Abdullah mengatakan sebenarnya menginginkan adanya moratorium. Namun lingkungan waktunya tidak tepat. Alasannya: Pertama, situasi global sangat sulit seperti yang terjadi inflasi di Amerika dan Eropa.

Kedua, inflasi di dalam negeri juga meningkat dengan adanya kenaikan BBM, pangan, dan energi. “Maka di saat kita melakukan moratorium kita akan dianggap default. Jadi terlihat akan aneh,” katanya.

Lebih lanjut, Bustami menjelaskan jawaban Burhanudin ini akan menjadi bahan bagi Pansus untuk memanggil stakeholder terkait BLBI lainnya. Sebelumnya, Pansus BLBI DPD RI sudah mengundang Anthony Salim, Budi dan Robert Hartono, serta Sjamsul Nursalim.

“Yang harus diketahui kita bertindak berdasar temuan BPK dan bukti-bukti berikutnya bersama dengan undangan kita pada semua pihak yang tahu duduk persoalan BLBI dan obligasi rekap. Kita akan jalan terus, pantang mundur karena rakyat sedang susah, konglomerat hitam yang rugikan negara ribuan triliun ini harus kita hentikan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Siapa pun itu sama di mata hukum,” pungkas Bustami.

Reporter : Bg86

KOLOM IKLAN


LAINNYA
x
x
PETIR800 LOGIN PETIR800 Mahjong Ways Masuk Radar Media Setelah Pencarian Game Digital Kembali Meningkat Starlight Princess Kembali Dibahas Saat Komunitas Mobile Memasuki Tren Baru Laporan Gaming Menyoroti Gates Of Olympus Dan Perubahan Pasar Game Digital Game Penghasil Uang Dengan Cepat Kembali Ramai Mahjong Ways Jadi Perbincangan Lucky Neko Dan Fenomena Game Asia Yang Kembali Mencuri Perhatian Media Mahjong Ways 2 Kembali Jadi Sorotan Besar Di Tengah Pertumbuhan Game Mobile Tren Media Gaming Terbaru Membawa Sweet Bonanza Ke Pusat Perbincangan Digital Media Gaming Mengulas Treasures Of Aztec Di Tengah Tren Game Mobile Modern Perkembangan Industri Game Membawa Mahjong Ways 2 Ke Gelombang Perhatian Baru Sweet Bonanza Kembali Jadi Topik Hangat Setelah Tren Hiburan Digital Meningkat Komunitas Online Kembali Menyoroti Mahjong Ways Di Tengah Persaingan Game Mobile Mahjong Ways 2 Masuk Sorotan Media Saat Game Bertema Asia Kembali Populer Gates Of Olympus Dan Tren Game Digital Yang Terus Mengundang Rasa Penasaran Sugar Rush Kembali Menarik Perhatian Setelah Tren Mobile Gaming Berubah Laporan Media Mengulas Starlight Princess Dan Perkembangan Industri Game Mahjong Ways Kembali Menguat Di Tengah Gelombang Hiburan Digital Terbaru Treasures Of Aztec Jadi Topik Baru Saat Komunitas Game Asia Semakin Berkembang Media Gaming Kembali Menyoroti Gates Of Olympus Di Tengah Booming Game Mobile Mahjong Ways 2 Dan Perubahan Tren Digital Yang Menarik Perhatian Komunitas Tren Game Penghasil Uang Dengan Cepat Membawa Sweet Bonanza Ke Radar Media Lucky Neko Kembali Masuk Headline Saat Tren Game Mobile Asia Meningkat Laporan Terkini Mengulas Alasan Mahjong Ways Masih Ramai Diperbincangkan Starlight Princess Dan Fenomena Game Mobile Yang Kembali Jadi Sorotan Media Online Mengulas Lucky Neko Dan Tren Game Bertema Asia Yang Menguat Starlight Princess Kembali Mencuat Saat Industri Hiburan Digital Berkembang Game Penghasil Uang Dengan Cepat Jadi Perbincangan Gates Of Olympus Masuk Sorotan Mahjong Ways Kembali Mendapat Panggung Di Tengah Transformasi Game Digital Laporan Media Gaming Mengulas Perjalanan Mahjong Ways 2 Di Pasar Mobile Treasures Of Aztec Masuk Radar Komunitas Setelah Tren Game Asia Menguat Perkembangan Mobile Gaming Kembali Membawa Sweet Bonanza Ke Pusat Perhatian Mahjong Ways Dan Tren Hiburan Digital Yang Semakin Banyak Dibahas Media Gates Of Olympus Kembali Menarik Perhatian Di Tengah Persaingan Game Modern Media Digital Menyoroti Sugar Rush Setelah Komunitas Mobile Semakin Aktif Mahjong Ways 2 Muncul Lagi Dalam Pembahasan Tren Game Penghasil Uang Sweet Bonanza Dan Perjalanan Popularitasnya Di Tengah Industri Game Modern Mahjong Ways 2 Kembali Jadi Buah Bibir Di Tengah Ramainya Game Mobile Mahjong Ways 2 Dan Fenomena Game Asia Yang Kembali Menarik Perhatian Media Sugar Rush Masuk Radar Media Di Tengah Perubahan Tren Game Mobile Laporan Industri Menyoroti Popularitas Gates Of Olympus Di Era Digital Komunitas Game Kembali Membicarakan Mahjong Ways Setelah Tren Mobile Meningkat Media Gaming Mengupas Fenomena Starlight Princess Di Tengah Tren Mobile Gates Of Olympus Kembali Masuk Headline Setelah Komunitas Game Semakin Ramai Mahjong Ways Mencuri Perhatian Media Berkat Popularitasnya Di Komunitas Mobile Tren Hiburan Digital Membuat Treasures Of Aztec Kembali Dilirik Pemain Mahjong Ways 2 Kembali Naik Daun Saat Pasar Game Digital Semakin Kompetitif Lucky Neko Masuk Sorotan Setelah Tren Game Bertema Asia Kembali Meningkat Laporan Terbaru Mengulas Daya Tarik Mahjong Ways Di Era Mobile Modern Sweet Bonanza Jadi Perbincangan Saat Tren Game Digital Kembali Menguat Game Penghasil Uang Dengan Cepat Makin Dicari Mahjong Ways 2 Jadi Sorotan Fenomena Game Penghasil Uang Dengan Cepat Membawa Mahjong Ways Ke Sorotan Media Starlight Princess Masuk Radar Komunitas Saat Tren Game Mobile Kembali Berubah Laporan Gaming Menyoroti Mahjong Ways 2 Dan Perkembangan Game Mobile Asia Treasures Of Aztec Kembali Mencuri Perhatian Di Tengah Tren Hiburan Mobile Mahjong Ways Jadi Topik Hangat Saat Komunitas Game Digital Semakin Aktif Perkembangan Game Mobile Membuat Sugar Rush Kembali Banyak Diperbincangkan Media Online Menyoroti Gates Of Olympus Di Tengah Tren Game Penghasil Uang Media Gaming Mengulas Mahjong Ways 2 Setelah Popularitasnya Kembali Meningkat Tren Game Mobile Terbaru Membawa Gates Of Olympus Ke Pusat Perhatian Komunitas Sweet Bonanza Kembali Ramai Dibahas Di Tengah Perkembangan Hiburan Digital Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan Di Tengah Tren Game Digital Yang Semakin Ramai
https://smppattimurajagakarsa.sch.id/kalender-akademik/ https://gulfrojgaar.com/dynamic-staffing-services-gulf-and-europe-jobs/ https://dpp-mmi.org/download/ Situs toto Situs togel Togel toto jepe togel SLotapk apkslot slotapk apkslot