
TANGERANG, L86News.com — Sabtu (25/04/26), Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kembali menggelar Wisuda ke-30 sebagai momentum penting dalam menandai kelulusan mahasiswa yang siap menghadapi tantangan dunia profesional yang semakin dinamis. Melalui momen ini, UMN terus berkomitmen untuk mencetak lulusan yang adaptif, inovatif, serta berdaya saing global.
Pada Wisuda ke-30 ini, UMN telah mewisuda sebanyak 678 mahasiswa. Dalam setiap penyelenggaraan wisuda, UMN secara konsisten mengangkat kekayaan budaya Nusantara sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman Indonesia dan pada kesempatan kali ini mengusung tema budaya Bali. Sejalan dengan semangat tersebut, para wisudawan telah menyelesaikan perjalanan akademiknya dan siap melangkah ke dunia profesional dengan bekal kompetensi berbasis industri, penguasaan teknologi, termasuk integrasi Artificial Intelligence (AI), serta pemahaman terhadap isu global dan keberlanjutan ( sustainability ).
Dr. Ir. Y. Budi Susanto, M.M., selaku Ketua Senat Universitas Multimedia Nusantara menyampaikan bahwa para lulusan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari kondisi ekonomi global yang kompetitif hingga disrupsi teknologi yang terus berkembang pesat, khususnya Artificial Intelligence (AI).
“Lulusan saat ini menghadapi dua tantangan besar sekaligus, yaitu kondisi ekonomi yang membuat persaingan kerja semakin ketat, serta perubahan lanskap keterampilan akibat perkembangan teknologi, terutama AI. Karena itu, penguasaan AI menjadi penting untuk meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi juga berjalan beriringan dengan meningkatnya perhatian industri terhadap aspek keberlanjutan.
“Selain penguasaan AI, lulusan juga perlu memahami aspek sustainability. Saat ini semakin banyak perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam proses bisnisnya, sehingga membutuhkan talenta dengan green skills. Lulusan UMN diharapkan mampu menguasai kedua bidang ini untuk menjawab kebutuhan industri ke depan,” jelasnya.
Budi juga menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya tuntutan terhadap sustainability, keunggulan lulusan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis semata, tetapi juga oleh penguatan human skills.
“Untuk tetap relevan, lulusan harus memiliki kemampuan beyond AI, yaitu human skills seperti komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, serta empati dan memiliki karakter yang baik,” tambahnya.
Menurutnya, kombinasi antara penguasaan teknologi, pemahaman terhadap isu keberlanjutan, serta penguatan human skills menjadi kunci bagi lulusan untuk dapat beradaptasi dan unggul di tengah perubahan industri yang cepat. Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar tidak berhenti pada saat wisuda, melainkan harus terus berlanjut seiring dengan dinamika dunia kerja.
“Wisuda bukan akhir dari proses belajar. Lulusan harus adaptif, agile, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner), serta terus membangun jejaring untuk dapat berkembang di dunia profesional,” tutupnya.
Semangat untuk terus belajar dan beradaptasi ini juga tercermin dari sosok pembicara utama dalam Wisuda ke-30 UMN. Acara ini menghadirkan Angelika Saraswati, alumni Jurnalistik UMN yang kini berkiprah sebagai Founder Asarasa Studio dan Product Owner EwasteRJ Indonesia. Angelika dikenal aktif mengembangkan berbagai inisiatif berkelanjutan melalui karya-karya kreatif, sejalan dengan semangat sustainability yang diusung oleh UMN.
“Aku mulai berkecimpung di dunia media sosial pada saat pandemi Covid-19, di saat di mana seluruh aktivitas dilakukan di rumah. Dari sini, aku mulai berpikir ‘Apa yang bisa aku lakukan?’ Aku tergerak untuk mulai membuat konten-konten pada akun pribadi @bersamangie yang banyak membahas tentang pengelolaan limbah rumah, penggunaan ulang limbah ke produk-produk baru”, ucap Angelika.
Berawal dari mencari kesibukan dalam membuat konten-konten, perjalanan karier Angelika dimulai. Tidak sampai situ saja, Angelika juga mengungkapkan bagaimana ide-idenya terus dikembangkan dalam perjalanan kariernya dan terus terlibat dalam inovasi produk berkelanjutan, salah satunya penggunaan ulang botol plastik menjadi aksesori.
“Selama perjalanan karier, aku terus terlibat dalam meningkatkan awareness limbah-limbah mulai dari plastik, elektronik, dan hal ini aku salurkan dengan bergabung pada Non-Government Organization workshop dengan sekolah, perguruan tinggi, exhibition dan berbagai kegiatan lainnya”, tambah Angelika.
Lewat segala perjalanan yang telah dilalui Angelika, kolaborasi bersama mulai berdatangan. Angelika sendiri merasa semakin banyak brand-brand besar yang menaruh perhatian pada keberlanjutan. Brand ternama yang turut berkolaborasi adalah Indonesia & Jakarta Fashion Week, Prambanan Jazz dan WWF Indonesia.
“Dari sini aku mulai berpikir untuk mengembangkan Asarasa, di mana kita mengubah kreativitas menjadi karya berkelanjutan, dengan mengolah limbah-limbah menjadi karya baru. Menurut aku lewat langkah-langkah kecil, kita bisa memberikan dampak yang besar untuk menggerakan orang lain juga”, paparnya.
Angelika meninggalkan pesan kepada para wisudawan UMN, yakni jangan pernah menganggap hal kecil adalah hal sepele karena dari situlah perjalanan besar dimulai. Angelika juga menegaskan betapa pentingnya membangun koneksi dan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak.