
LAMPUNG TIMUR, L86News.com – Proyek pembangunan tiga lokal gedung di SMKN 1 Gunung Pelindung, Kecamatan Gunung Pelindung, Kabupaten Lampung Timur diduga rawan kecurangan karena tidak berdayakan warga setempat.
Saat hendak di konfirmasi, Kepala SMKN 1 Gunung Pelindung tidak ada di tempat. Ada yang bilang Kepsek tidak ada dan memang jarang masuk lantaran tidak ada jam mengajar.
“Pak kepala sekolah nya gak ada, sedang dinas luar, ya masuk nya gak tentu sih, biasa nya seminggu dua kali, karena memang beliau tidak ada jam ngajar juga,” ujar salah satu dewan guru yang enggan namanya disebut.
Terkait pembangunan tiga lokal tersebut, ia mengaku tidak tahu persis. Tapi kata dia pihak sekolah tidak terlibat. “Setahu saya pihak sekolah tidak terlibat apapun di proyek itu, kami tahu nya terima beres,” Sambung nya.
Tender milyaran rupiah berupa pembangunan ruang laboratorium bahasa dan kimia serta ruang bimbingan konseling itu ternyata di kerja kan oleh pihak ketiga atau rekanan.
Dari keterangan tersebut akhirnya muncul istilah terima kunci. Arti nya pihak sekolah tidak terlibat dalam proses pembangunan, melainkan terima jadi atau dikenal dengan istilah terima kunci.
Pendapat senada juga di sampai kan, Amri salah seorang guru di sekolah tersebut. “Ya, pihak sekolah maupun komite tidak terlibat disitu, tahu nya terima kunci atau sudah terima beres,” kata Amri, Jum’at (8/9/23).
Amri pun mengakui belum pernah bertemu dengan konsultan atau pengawas dari Dinas terkait. Bahkan pihak sekolah meminta salinan gambar bangunannya saja tidak diberikan.
“Saya belum pernah bertemu atau melihat konsultan dan pengawas dari dinas selama proyek berjalan, bahkan kami minta salinan gambar bangunan nya pun gak di kasih,” ungkapnya.
Sementara saat media ini ke lokasi proyek, sama seperti sebelumnya tidak di jumpai konsultan pengawas maupun pengawas lapangan dari Dinas terkait.
Selaku kepala tukang, Heri mengatakan, konsultan dan pengawas dari Dinas terkait sering ke lokasi. “Kemarin konsultan nya datang, tapi ini gak datang, kalau tidak salah pengawas dari Dinas nama nya Pak Rico dan konsultan Pak Lutfi,” ujar Heri.
Menurut Heri kualitas cor-coran sudah sesuai standar dengan takaran adukan 1:2:3, dengan kekuatan K300, meski kata dia dikerjakan secara manual.
“Kalau adukan cor kita manual gak pake mesin molen, takaran nya 1:2:3 untuk tekanan nya saya kurang faham, kalau kekuatan nya K300 kalau tidak salah,” ucapnya.
Namun fakta di lokasi proyek di temukan beberapa kejanggalan, kualitas cor tiang masih terkesan asal-asalan. Kualitas material pasir terlihat buruk, berwarna kemerahan dan bercampur lumpur halus.
Sehingga di tiang cor di temu kan beberapa keretakan dan terkesan empuk ketika paku reng kecil di tancapkan oleh pekerja. Paku tidak bengkok menancap kokoh pada tiang bangunan tersebut.
Dan hampir di setiap tiang cor bangunan di temukan paku biasa ukuran kecil (bukan paku beton). Selain itu di area proyek juga berserakan papan berpaku dan berbahaya bagi siswa di sekolah tersebut.
Sampai berita ini di tayang kan, selaku pelaksana proyek Pihak PT. Wungu Sejahtera Wijaya belum bisa di temui dan di konfirmasi.
Pewarta : Madsyah