
LAMPUNG TIMUR, L86News.com — Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan GiZ Jerman menggelar Pelatihan Psikososial Konselor Sebaya Berbasis Komunitas serta Pelatihan Dasar Pengasuhan Anak bagi wali dan pengasuh anak pekerja migran.
Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (16/2/2026).
Berdasar informasi dilokasi, Lakpesdam PBNU telah merancang kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendampingan layanan konseling dan parenting. Program itu bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendampingi anak-anak dari keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Sebanyak 25 peserta mengikuti pelatihan itu. Mereka berasal dari Satgas Demimas (Desa Migran Emas) Bandar Agung, tokoh masyarakat, Purna PMI, kader PKK, kader desa dan sejumlah keluarga Migran. Pelatihan menghadirkan narasumber Psikolog Dewi Trisnahwati dengan materi penguatan psikososial dan pola asuh anak.
Ketua Demimas Desa Bandar Agung, Widiastuty menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas pelaksanaan program tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan masyarakat desa Bandar Agung.
“Saya menyambut baik program dari Lakpesdam PBNU. Pelatihan ini sangat bermanfaat karena dapat memperkuat pengasuhan anak keluarga pekerja migran. Saya berharap warga masyarakat dapat menerapkan hasil pelatihan ini di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Senada juga di sampaikan Kepala Desa (Kades) Bandar Agung, Aldi Guntoro melalui pesan singkat. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus berkomitmen mendukung program-program pemberdayaan masyarakat yang di jalankan oleh Lakpesdam PBNU.
“Selaku Kades, saya akan terus mendukung program penguatan kapasitas masyarakat, termasuk dalam isu perlindungan keluarga dan anak pekerja migran. Jadi, pelatihan psikososial berbasis komunitas ini sangat penting bagi warga khususnya kelurga PMI,” jelasnya.
Menurutnya, melalui pendekatan model itu akan mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli dan responsif. “Saya berharap peelatihan ini akan melahirkan konselor sebaya di lingkungan masyarakat dan dapat mendampingi anak-anak keluarga PMI agar memperoleh pola asuh sehat, aman, dan mendukung tumbuh kembang anak,” pungkasnya.
Sementara, dilokasi terlihat materi pelatihan mencakup dasar konseling psikososial, peran konselor sebaya berbasis komunitas, penguatan pola asuh anak, serta sejumlah praktik komunikasi efektif antar orang tua dan anak. Sedangkan Tim pelatih menyampaikan materi secara partisipatif melalui diskusi, simulasi, dan studi kasus.