
PESAWARAN, L86News.com – Hama tikus menyerang kurang lebih 100 hektar sawah milik petani di Desa Karang Rejo, Kecamatan Negerikaton, Kabupaten Pesawaran, Kamis (2/7/2026).
Akibat serangan hewan pengerat itu tanaman padi dilokasi tersebut terancam gagal panen.
Kepala Desa Karang Rejo, Sutri Edi membenarkan, bahwa saat ini para petani di wilayahnya kini tengah dilanda kecemasan akibat hama tikus yang menyerang sawah milik petani setempat.
“Saya mendengar laporan dan melihat sendiri aduan dari masyarakat terutama dari para kelompok tani terkait serangan hama tikus ini. Saat ini petani cemas karena hasil produksi padi mereka banyak berkurang bahkan ada yang terancam gagal panen,” kata Sutri Edi.
Ia menyampaikan, serangan hama tikus itu mulai menyerang sawah petani sejak awal masa tanam padi pada bulan Mei lalu. Dan sampai sekarang hama tikus itu semakin masif menyerang bagian batang padi, sehingga tanaman padi banyak yang mati dan dari 100 hektar sawah ada 12 kelompok tani yang terdampak.
“Kalau kondisi normal, petani bisa panen dari satu per empat hektare sawah itu sampai 12 kuintal gabah. Namun sekarang hanya menghasilkan dua kuintal saja. Untuk kerugian para petani saat ini masih dikalkulasikan,” ucapnya.
Namun, Ia mengatakan apabila semua biaya dari kerugian para petani dibebankan oleh Pemerintah Desa tidak akan bisa tercover.
Sutri Edi mengatakan, berbagai upaya pengendalian mandiri dari para petani juga telah dilakukan, mulai dari mengusir dan membasmi hama tikus secara massal, memasang ranjau, menebar racun dan membakar semak-semak di sekitar sawah. Namun upaya itu sia-sia.
Oleh sebab itu, Ia berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Pesawaran ataupun Pemerintah Provinsi Lampung bisa memberikan bantuan dan langkah konkret untuk petani dalam mengatasi persoalan hama tikus di Desa Karang Rejo.
“Saya berharap pemerintah terutama dinas terkait cepat segera turun tangan untuk membantu para petani. Kami meminta bantuan dari Pemda setempat ataupun Pemerintah Provinsi untuk mengatasi hama tikus di desa kami,” ujarnya.
Sementara itu, Yanto warga setempat mengatakan, luas lahan miliknya yang terdampak mencapai kurang lebih 2 hektar.
Ia mengkhawatirkan jika tidak segera ditangani secara masif, maka ancaman gagal panen akan menjadi kenyataan.
“Kami khawatir ancaman gagal panen ini akan menjadi kenyataan. Kerugian ekonomi yang dialami warga tentu sangat besar, mengingat biaya operasional seperti pupuk dan pengolahan lahan yang sudah dikeluarkan cukup tinggi,” kata Yanto.
Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan teknis dan logistik yang lebih intensif agar sisa tanaman yang belum terserang dapat diselamatkan.
“Harapan besar kami para petani saat ini adalah agar tidak mengalami kerugian total, sehingga ketahanan pangan di tingkat desa tetap terjaga. Hingga saat ini kami masih berjaga secara bergantian di sawah masing-masing pada malam hari, berusaha meminimalisir kerusakan lebih lanjut sembari menunggu upaya dan bantuan teknis dari pihak pemerintah atau dinas terkait,” harapnya.