Adela Sutria Wati, Siswi SMAS St. Gregorius ReoL86News.com – Di sebuah rumah sederhana berdinding krem yang mulai memudar, hiduplah sebuah keluarga kecil yang hangat. Rumah itu tidak besar, tetapi terasa penuh bukan karena barang mewah, melainkan oleh suara tawa, doa, dan perdebatan kecil yang tulus.
Di dalam rumah itu tinggal Ayah, Ibu, dan dua anak perempuan mereka, Diana yang duduk di bangku kelas 3 SMA, serta Wati, adiknya yang masih kelas 1 SMP,seorang gadis polos, sensitif, ceria, dan penuh rasa ingin tahu.
Setiap hari, Ayah bekerja sebagai penjual bakso. Ia mendorong gerobaknya berkeliling kota dengan topi dan sapu tangan panjang yang melilit di leher untuk menghalau peluh. Sementara itu, Ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang dengan penuh kasih melayani kebutuhan suami dan anak-anaknya. Mereka hidup bersahaja dari penghasilan gerobak bakso tersebut.
Suatu malam, hujan turun sangat deras disertai angin kencang membuat jendela bergetar pelan. Tiba-tiba, listrik padam.
“Yah… mati lampu lagi,” keluh Wati.
Diana mendesah kecil. “Padahal aku mau belajar untuk persiapan ujian.”
Ayah menyalakan sebatang lilin dan meletakkannya di tengah meja makan. Cahaya kecil itu temaram menerangi ruangan dan wajah mereka satu per satu. Dalam kesunyian malam itu, wajah Ayah tampak sangat lelah. Ibu tersenyum lembut, mencoba mencairkan suasana.
“Kita duduk bersama saja dulu sambil bercerita,” kata Ibu dengan nada lembut.
Mereka berkumpul di meja makan. Tanpa televisi, tanpa ponsel, hanya ada suara hujan dan embusan napas yang saling terdengar.
Ayah tiba-tiba berkata, “Dulu waktu Ayah kecil, listrik pun tak ada. Tapi kami masih bisa bercerita setiap malam setelah makan. Justru saat-saat seperti inilah Ayah ingat kisah-kisah masa lalu. Kami lebih banyak bicara, menyanyi, bahkan tertawa karena kakek kalian suka menceritakan hal-hal lucu.”
Diana menatap nyala lilin itu sambil berbisik, “Tapi… sekarang semuanya serba susah, Ayah. Jika listrik mati, jaringan internet pun hilang. Padahal kami sangat membutuhkannya. Apalagi zaman sekarang biaya sekolah sangat mahal, aku takut tidak bisa lanjut kuliah.”
Ruangan mendadak hening.
Wati menunduk. Ia tahu kakaknya sering memikirkan hal itu. Ia juga tahu ayahnya sering pulang malam dengan tubuh basah oleh keringat, dan Ibu yang diam-diam di dapur teliti menghitung uang belanja agar cukup untuk hari esok.
Ayah menarik napas panjang. “Nak… Ayah mungkin tidak bisa memberikan kemewahan. Tapi Ayah dan Ibu akan selalu berusaha memberikan yang terbaik. Yang penting bukan seberapa banyak yang kita punya, tapi bagaimana kita tetap bersama dan saling menguatkan.”
Ibu menggenggam tangan Diana. “Rezeki itu bukan cuma uang, Nak. Kadang rezeki itu adalah kesehatan dan keluarga yang harmonis serta tetap utuh.”
Hujan masih turun, tetapi entah mengapa hati Diana terasa sedikit lebih hangat.
Beberapa minggu kemudian, ujian Diana selesai. Ia terlihat diam dari biasanya. Wati sering melihat kakaknya menatap brosur universitas dengan wajah ragu.
Suatu sore, Wati masuk ke kamar kakaknya. “Kak, kalau nanti Kakak kuliah jauh, aku bakal kangen,” katanya pelan.
Diana tersenyum tipis. “Belum tentu Kakak kuliah, Ti.”
“Kenapa?”
Diana menunduk. “Biayanya mahal.”
Wati terdiam sejenak. Ia mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang biaya dan tanggung jawab, tetapi ia tahu satu hal: kakaknya punya mimpi besar.
Malam itu, Wati mendengar percakapan pelan dari ruang tengah. Ayah dan Ibu sedang berbicara tentang tabungan, kemungkinan meminjam uang, dan tentang harapan. Wati kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa menjadi keluarga bukan hanya tinggal dalam satu atap, tetapi tentang memikul beban bersama.
Beberapa bulan kemudian, suatu pagi, sebuah surat datang. Diana membukanya dengan tangan gemetar. Ia diterima di Universitas Negeri dengan beasiswa penuh!
Tangis haru pecah di ruang tamu itu. Ibu menutup wajahnya sambil mengucap syukur. Ayah tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. Wati memeluk kakaknya erat.
“Kak… ternyata benar kata Ayah, rezeki bukan cuma uang!” seru Wati dengan senyum lebar sambil menatap ayahnya.
Sejak hari itu, suasana rumah selalu penuh sukacita. Meski atap rumah mereka masih berisik saat hujan turun, ada satu hal yang tak pernah berubah: ingatan tentang cahaya lilin yang menerangi wajah mereka saat listrik padam dulu.
Cahaya itu bukan berasal dari lampu mewah, melainkan dari kehangatan keluarga yang saling percaya dan tidak menyerah meski keadaan tidak mudah. Seiring berjalannya waktu, Wati pun beranjak dewasa. Ia belajar bahwa hidup harus diperjuangkan dan persoalan tidak boleh dihadapi sendirian tanpa kehadiran sosok keluarga.